Tampilkan postingan dengan label music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label music. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 November 2013

Hanya sebuah ide

Apa jadinya ketika ide gila jadi nyata??
Awalnya orang mungkin ketawa, tapi begitu kenyataan gila itu diapresiasi, yang ketawa bakal bungkam, atau bahkan Kadang justru bikin mereka sadar bahwa "ide gila yang nyata" itu layak dikasih penghargaan yang sesuai.

Tapi kalo ide gila cuman sekedar ide yang dipendem Dalem otak sendiri....
Ga Ada yang bakal tau kalo itu ide emang gila. Wong ga Ada feed back sama sekali Dan ga Ada realisasi juga - singkat kata, cuman fantasi bos.

Nah, gimana dengan nasib ide gila yang ditengah2? Ide gila yang belum jadi nyata tapi orang2 udah tau, seakan2 siapa tau somehow di masa depan ide itu bisa kejadian?
Ya ini yang bikin orang bisa ngetawain Dan ngeremehin lo gak pake jeda. Gila mungkin bakal jadi label yang orang2 pikir ketika ngeliat lo Even bahkan ketika cuman papasan di Jalanan.
Well that was my experience pas SMP, truly. Baru ketika wisuda gua ngerasain yang namanya "Menang" itu.

Dan kali ini gua mau berbagi ide gila gua yang terinspirasi pertemuan dengan Piana na Ulici itu.

Jujur sebenernya gua sekarang inget gua pernah berkhayal dulu kala pas tau streetpianos.com , siapa tau itu bisa jadi Ada di Jakarta atau kota lain di Indonesia. Tapi itu ngayal, ngawang, nothing serious, just being Arkan the dreamer like usual.

Tapi entah bagaimana, mungkin karena hal2 baik membawa momentum untuk terus berbuat hal baik, gua dapet inspirasi di kereta.
Well, inspirasi ini tepat setelah gua bikin video yang hubungan sama posting gua sebelumnya - soal gimana sesederhana lo main piano aja, lo bisa bikin orang bahagia, gimana Buat dapet pahala (amin) sekaligus bersenang-senang itu amat mudah. Jadi mungkin ini kayak semacam sisa semangat gua yang excited karena berhasil bikin orang2 di Namesti Míru punya sekitar 10-15 menit yang enjoyable di hidup mereka.

Gua berfikir lagi....
Gimana kalo bisa beneran, Ada Piano Jalanan bangsa Piana na Ulici di Jalanan Jakarta, Dan mungkin bahkan Bandung, Jogja, Solo Dan kota2 lainnya? How if we start this movement to make it true?

Emang pastinya kan, lo bilang, "gila, apa gak diambilin ama orang-orang yang sering nyabut rel kereta Buat jual besi ya masbro? Apa gak dirusakin sama anak Jalanan? Apa gak diancurin sama gelandangan?"

I knew all the problems too well, melihat Jalanan Jakarta Tiap hari, Dan seringkali lewat metro mini yang penuh sesak itu beserta juga terminalnya yang Paling dekat dari sekolah gua (baca: Blok M) - ini adalah hal2 pertama yang gua pikirkan ketika ide ini muncul di kepala.

Tapi.... Itu semua tidak mustahil masbro mbaksis.

Yang pertama gua butuhkan tentunya, Sebelum bahkan gelandangan-gelandangan itu punya niat ngerusakin piano gua, ya pastinya Pianonya sendiri - duit pasti harus keluar, kocek harus dirogoh dalam-dalam, angka demi angka di E-Banking bakal beterbangan keluar masuk akun.

Somehow soal duit, gua juga punya ide sendiri, gua gak ngerti kok bisanya otak gua lagi se-encer ini.

Seperti halnya kayak pas di Namesti Míru gua minta FBnya si mas botak yang bermain Sebelum gua, hal yang sama akan gua lakukan - tapi kali ini bukan demi minta masukan soal video piano gua, tapi Buat galang dukungan dari Socmed saja dulu, kalau Beruntung gua bisa ketemu sama si mas Ondřej yang bikin proyek Piana na Ulici di Praha itu, jadi ujung2nya bisa dapet support dari orang yang beneran sudah berpengalaman. Minta duit 10 Korun per orang aja, dikalikan 1000 orang yang udah 10,000 Korun alias 6 Juta - emang nothing sih tapi mungkin cukup untuk blasak-blusuk nyari piano mungil tua kayak yang dipake disini...
kata guru gua emang, piano kecil Buat ngamen di Jalanan yang sering dipake di Eropa, konon katanya udah ga Ada di Indonesia, pasarnya udah abis - well, tapi it means there was a time when it was available, betul?

Ya ya guys, I know what u will say, nulis doang enak, but remember, ini baru ide, baru proposal mentah, belum di revisi, belum siap untuk dikasih ke meja guru pembina lo yang bakal dengan gampangnya baca berhalaman-halaman proposal Dan tinggal nyoret2 beberapa Bagian dengan gampangnya Dan bikin lo patah hati bertanya2 "kok yang itu salah lagi...." (Colek 5 orang kebanggaan gua hahaha)

Lets continue to tell the world About my proposal.

That was About the funding, About the support here selama gua bakal masih Ada di bumi Bohemia ini - gua harap sih dengan teknologi sekarang gua bisa manfaatin Buat spread the word di Jakarta, kalau bisa juga biar siap2 Buat ketemu orang2 yang bakal berperan penting juga sesampainya gua di Jakarta lagi.

Tapi katakanlah bahwa urusan itu bisa ditangani, pertanyaan berikutnya - apa yang akan kelak terjadi kalau memang duit terkumpul, Dan piano pertama bisa díletakkan di salah šatů sisi ruang publik di Jakarta?

Konsep gua masih sama dengan konsep piano Jalanan versi Ceko maupun versi Inggris yang udah mendunia - let people play, let people show their talents, let performers know each other, let players meet listeners, let public discover prodigies, biarkan apa adanya Dan lihat keajaiban apa yang akan terjadi....
Karena konon katanya si streetpianos di UK pun udah nemuin prodigy nya, Dan mengejutkannya adalah yang dibilang prodigy muda berumur 11 tahun itu, unmistakably he is, an Indonesian - lebih tepatnya sih Chinese-Indonesian yang tinggal di Inggris.

Tapi jujur gua berharap lebih, lagi2 sisi anti mainstream gua, yang selalu pengen beda, gak mesti selalu lebih baik karena gua yakin semua perbedaan punya manfaat Dan mundharatnya masing-masing - yang penting beda.

Otak pemimpi gua terbang jauh hingga akhirnya mendarat ke salah šatů impian gua.
Jadi guru Piano, ngajarin anak2.

Kenapa gak nantinya Piano Jalanan versi Jakarta itu gua tambahkan sebuah program - dimana orang2 yang mau sukarela punya basic music, ngeluangin waktunya ngajarin piano atau nyanyi (basically sih ngajarin musik) lewat Piano-Piano ini ke anak-anak yang kurang Beruntung? Lo mungkin nanya, gimana caranya coba cari anak-anak itu? Ah, mereka Ada di berbagai tempat, gua mention aja 3 tempat potensial pasang Piano ini di Jakarta - Taman Menteng, Senayan (ya, sekitar GBK maksudnya), Taman Langsat, ga susah nemuin anak2 itu keliaran di tempat2 ini di sore2 hari ataupun hari libur.

Dan lebih lagi sebenernya piano-piano ini bisa disewa dengan harga amat murah Buat mereka yang pengen nge-Tag konser privat alias pertunjukan ke teman/kerabat , lebih tepatnya lagi konser privat drop-in drop-off dimana orang cuman main 3-4 lagu, terus selesai Dan jalan ke entah Mana lagi, tentunya piano-piano itu bakal jadi sarana keren Buat band-band atau orang-orang yang pengen ngasah kemampuan didepan publik, didepan kenalan-kenalan mereka sendiri tapi gak menutup kemungkinan orang luar Buat ngeliat, karena ini bakal Ada di ruang publik!

Di šatů sisi soal keamanannya gimana? Well kemarin gua baru balík di Praha Dan ngeliat Ada sebuah perubahan dalam sistem Piana na Ulici ini - Ada Piano Attendant (Hlidáč) yang nungguin Piano ini sesuai Shift mereka, Dan rata2 mereka adalah anak muda yang emang passionate ngedukung proyek itu. Gua bahkan sempet ngomong dengan salah šatů dari mereka di Hlavní Nádraží alias Hauptbahnhof / Stasiun Sentral.

Yang ngobrol sama gua men-definisikan problem keamanan pianonya kayak gini

"Well, you know this is actually the 3rd Piano we move in to this place, the first two had been destroyed by... You know, Hobos, Drunk people, Vandals roaming on the night... So Even the Train Station management, Even them, they asked to our organization that someone should look after the Piano - to lock them every night and unlock them the next morning, to guard against those people, and to check the piano sound so that they know when to call the man who can fix it - so it wont be destroyed anymore."

Ya, yang jadi masalahnya sih emang soal apa mereka mau dibayar atau gak, gak banyak orang di Indonesia punya waktu cukup untuk gak dibayar, atau lebih benernya sih, anak-anak muda Jakarta selalu nyari kesempatan nyari duit dengan, sayangnya, kerjaan yang gak terlalu berat tapi bayarannya memuaskan (gua gak bilang anak muda yang peduli hal-hal macem gini udah langka, tapi biasanya mereka yang peduli volunteer proyek-proyek semacam ini udah keburu aktif di macem-macem organisasi lainnya, Dan bakal cuman ngambil "kerjaan jagain piano" ini kalau emang mereka bener2 punya waktu luang, kalau emang bener mereka punya....)

Lebih lagi adalah masalah apakah orang-orang yang potensial jagain piano-piano kita ini adalah orang yang amanah; sebenernya ini hal yang Paling penting sih. Jangan sampai gara2 salah milih orang dalam 1 malem tiba2 piano ini ilang digandul sama oknum2 "kompor bledug" yang ngomporin kepentingan kelompok tertentu, bisa jadi mereka kawanan politik, politik-ekstrim-atas-nama-agama, atau kawanan "komunitas masyarakat lokal" yang seringkali ngeblok Jalanan demi sebuah "bazar/pasar malam" yang seringkali juga mereka sebenernya berperan besar dalam politik lokal.

Harus gua bilang sebenernya "kompor2 bledug" itu lumayan.... Penakut.
Karena mereka melibas ancaman dengan hal ekstrim, katanya sih preventif, tapi bisa kan kalau kita nerapin ayat terakhir Al-Kafirun; bagimu agamamu bagiku agamaku, jadi bagimu urusanmu bagiku urusanku, jangan campur tangan masalah orang kenapa, toh gak bikin masyarakat resah, kalaupun ada masyarakat resah biasanya itu juga orang-orang yang lo komporin, haha.

Kembali soal urusan Piano! Huh isu itu emang selalu bikin gua gatel sih. Gua selalu punya rasa pengen wawancara orang-orang yang telah membuat kelompok-kelompok yang mengatasnamakan keamanan Dan ketentraman masyarakat tapi nyatanya justru mencoreng toleransi Nusantara yang sudah berkibar dari jaman dulu kala.

Hal terakhir yang pengen gua tulis adalah pikiran gua soal apa yang akan terjadi sesudah soal Piano Jalanan ini udah berjalan alias cara menjaga Dan mengembangkannya, well, berangkat dari pengalaman gua dalam beberapa organisasi kecil Dan dari melihat apa yang berkembang di beberapa LSM yang gua liat, ataupun dengar, dari si Mas Dan Ibu yang memang kesehariannya selalu bersinggungan dengan lembaga-lembaga tersebut....
Gua harap gua bisa bikin framework organisasi Buat ngembangin si Piano itu, mainly bakal Ada 3 Divisi or departemen or bagian Utama - mereka adalah Divisi Pre-Op, Ops (Operasional) Dan PD alias product development.

Pre-Op ya ini adalah orang2 yang punya pengalaman ngadepin segala seluk-beluk persiapan untuk mendatangkan piano ini ke šatů tempat - mereka yang tau cara nyari dan mindahin piano bekas yang bagus, cek apakah pianonya Perlu di stem, Dan tentunya, tetek bengek perizinan yang gua seringkali benci. Dan kalau diliat dari Poin terakhir, ya, melihat birokrasi negara kita yang belum berubah, baiknya sih ya mereka yang punya koneksi.

Ops sendiri adalah orang-orang yang menjamin Piano Jalanan ini bisa dirawat Dan jalan terus. Like I have mentioned on the security issues beforehand.

Dan terakhir, Product Development? Ya, bahkan proyek kaya gini pun butuh Product Development - Dan sebenernya ini adalah Bagian organisasi yang gua bakal sangat suka; mereka yang bakal cari2 tempat Mana aja yang bisa didatengin piano berikutnya, well, kalau prosedur2 sih emang bakal dikasih ke Pře-Op, tapi mereka ini bakal jadi orang2 yang riset.

Masbro, Buat apa riset Buat proyek macem ini? Riset apa coba?
Duh, lagi2 disinilah anti-mainstream gua keliatan; gua dari dulu selalu tertarik dengan riset2 sederhana - apa efek coklat pada perasaan kita, efek nonton TV, dkk dkknya, how melihat simple things bisa bikin para ilmuwan narik kesimpulan.
Nah di Piano Jalanan ini gua berharap para manusia2 Product Development ini bisa melihat detail2 angka yang mudah terlewat tapi sebenarnya kalau dimanfaatkan bisa dahsyat - contohnya; di jam berapa saja orang main piano? Orang dari latar belakang apa saja? Kalau misalnya Ada musísi yang ikut main, naik berapa persen? Apa pengaruh hari2 libur dengan kenaikan/penurunan orang yang main piano? Hal2 macam ini gua percaya sih bisa bikin kita tau, strategi Buat lebih bisa masang piano selanjutnya di tempat yang tepat.
Selain itu gua juga punya harapan si seksi PD ini bisa juga bikin semacam kampanye promosi dari berbagai cara; mulai dari merchandise, bikin teaser di YouTube, or ngundang musísi muda maupun yang berpengalaman.

Again guys, its just an idea sih...


Minggu, 10 November 2013

Piana na ulici

Praha, Praha.....

Entah berapa kali gua udah ke sana Dan bakal ke sana lagi.
Slowly but surely pun gua udah mulai afal beberapa bagian Praha, bahkan lebih faseh daripada beberapa Bagian pinggir Plzeň.

Sometimes jalan2, cuman 2x sih in fact, tapi sisanya semua karena Ada event yang gua di undang - entah itu undangan manggung nari, ngasih speech, presentasi atau sebagainya.

Praha starts to look a little bit more ordinary, no more of something to crave and boast about, tapi tetep aja, emang ini šatů kota yang secara alami posisinya čakep banget, berbukit turun ke sungai terus naik bukit lagi, terus ditambah sama bangunan2 tua yang tetep kokoh, lebih cantik lagi.

Praha is definitely one of the prettiest town I ever seen in my life. Gak boong.

Tapi di 2 perjalanan terakhir gua dalam 2 minggu ini ke Praha - Ada sesuatu yang bikin gua bener2 tersentak, it swept myself off my feet and it still does.

Mahluk mempesona itu bernama Piano.
Bukan sembarang Piano, men.
Je to, this is,  Piana na Ulici.

Kalo kita terjemahin harfiah, itu berarti "Piano-Piano di Jalanan".

Although gak selamanya doi Ada di Jalanan - bahkan tatap muka pertama gua dengan Piano macam ini bukan di Jalanan Praha yang jauh lebih rame dibanding Plzeň, tapi di Stasiun.

Kamis 31 Oktober itu di Praha Hlavní Nádraží / Prag Hauptbahnhof alias Stasiun Utama Praha

Cuman karena gak sengaja lewatin Bagian Stasiun yang šatů itu (Stasiun ini emang Gede masbor) gua ngeliat šatů orang ini lagi main Piano.
Ditemenin šatů cewek yang kayaknya nge-request lagu n nyanyi (no, I dont know its his Girlfriend or not).

Pertama yang Ada di Benák gua - minggu lalu ga Ada yang main Piano disini.

Yang kedua, yang bikin gua makin pernasaran adalah dari asumsi gua.
Gua ngeliat foto2 n video2 di Internet (yes, Youtube), rata2 di Eropa kalo orang ngamen Piano, Pianonya bukan Piano Upright ukuran standar kayak yang gua liat sekarang, mereka main pake Piano mungil, yang tingginya Paling cuman 1-1,2 meter, dan mayoritas dimodifikasi biar roda di kaki2nya Gede biar gampang dipindah2.

Cuman, si Piano yang šatů ini.... Dia hadir seakan-akan gak bakal mau dipindah2, Dan dari perangai dua manusia yang lagi enjoy this piano itu, mereka gak ngamen.



Tiba2 terlintas di akal gua šatů hal yang udah láma gua lupain.
Gua sempet baca di Internet tentang Proyek, aslinya punyanya musísi Inggris di Birmingham, dimana intinya di tempat2 ruang publik di šatů kota, dia pasangin piano-piano biar semua orang bisa main gratis. Namanya Streetpianos.

Sheez....
Is this THAT THING?
Sesuatu yang gua sempet ngarep (ngarep banget) hadir di Jakarta, karena bahkan di Hangzhou di Cina pun udah Ada.

Tapi tapi, si Proyek ini punya Motto, yang di pasang di Tiap Pianonya

"Play me, Im yours"
"Jouez, je suis a vous"

Ini gak, si Piano tua buatan Jerman (gua nebak dari namanya sih begitu gua ngedeketin itu Piano), ga Ada tulisan apa2.
Tapi emang, Ada gemboknya.

Sampai akhirnya gua baca sesuatu



Yup, bla bla bla, Proyek ini dibikin sama si Ondřej itu, pemilik Kafe... 
Yang semacam Proyek ini katanya udah banyak di kota2 Gede lainnya....
Sejak tggl 5 November bakal Ada 7 Piano macem ini di Praha....
Orang2 diharepin pada main maksimal 2 lagu terus kasih giliran ke yang lain.....
And they wish fór donasi, biar bisa expand Proyek ini ke kota lainnya di CZ....
Dan gak boleh main Buat ngamen....

Websitenya běda dari streetpianos.com, well ini berarti Proyek ini agak berbeda mungkin...
Later on setelah gua dapet Internet (balík di rumah) ketauan bahwa proyek si Ondřej ini, emang běda  naungan payung dari streetpianos, dia inisiatif bikin sendiri dimana doi n timny emang bener2 deteŕmined Buat bikin Proyek ini lewat usaha sendiri just fór the sake of bringing music in the open space.

Kembali ke Kamis sore itu, well, I must tell you, perasaan pertama kalinya main Piano di tempat macem gini - grogi minta ampun, ketika dua pasangan itu selesai main Dan piano itu kosong, gua deg2an kenceng.

This side of my heart said "damn, Kan! Kesempatan lo! kapan lagi main piano kayak begini! Sikaaaat"
Dan di seberang Bagian yang satu itu, reaksi instinktif "Fight or Flight" yang Ada di otak primordial gua bilang....

"JANGAN KAN, LO BAKAL MALU-MALUIN DIRI LO SENDIRI. Rusak martabak.... Eh, martabatmu nak!"

Yet somehow yang ngambil keputusan bukan hati gua tapi malah kaki gua yang makin mendekatkan gua ke kursi kayu sederhana yang teronggok kosong itu.

One Deep Breath,
And finally I made my call.

Dimainkanlah itu Piano, jari gua menari diatas tuts hitam putih itu, tapi gemeteran, sepanjang main gua takut gimana kalo semua orang malah nertawain or Even minta gua berhenti?

Ini ruang publik men.
This is not a private party or panggung dimana penontonnya temen2 yang gua kenal or at least, yang manggung bareng sama gua itu orang2 yang gua udah kenal banget, seperti yang gua biasa lakukan - kali ini gua manggung di depan orang2 yang lalu lalang, yang gua gak kenal, yang bisa jadi benci total ama permainan gua yang beda, bisa juga langsung Keplek-Keplek ngefans. i never know.

Selama permainan pertama gua itu gua cuman bisa fokus ke Piano - beberapa kali mata gua bisa nangkep beberapa orang berhenti sejenak ngeliat gua di beberapa lagu - gua ngeliat Ada ibu-ibu tua yang dengerin gua pas gua main lagu "I got Rhythm" (yup, its that good old Ragtime from Irving Berlin), Ada juga si mbak2 bule yang šatů itu yang dengerin gua pas main "A hundred years" (Five for Fighting, bukan A Thousands Years ya).

Ngeliat beberapa orang yang nyempetin waktunya dengerin gua main, it takes off some pressure tapi tetep mata gua gak bisa lepas lebih dari 2 detik dari Piano tua itu, saking nervousnya.

Like a guilty pleasure - lo merasa salah, deg2an, tapi somehow lanjut main aja terus, entah kenapa di antara rasa grogi itu Ada rasa seneng.

Masuk lagu ke-4... (Tuh kan, orang Indonesia yg gak disiplin peraturan begini nih) Ada yang nyela gua.

Si om botak kacamata itu cuman bilang

"prosím vás, Můžu si hrát?"
Permisi, boleh gak main?

Yup, time is up Kan!

Lega rasanya, tapi somehow masih ngerasa...
Its not a good performance! Your hands were shaking! Lo gak cukup bagus!

Lebih lagi karena si Om ini main Ragtime yang sangat keren kalo dibanding gua yang cuman sa'emprit.
Bahkan Ada yang belum sampe 1 menit doi main Ada tante2 yang ngedeketin Dan bilang "Pekne!" Beautiful!

And ya, insting Arkan - everytime there is something good, spread the news to those who maybe are interested, bomat dibilang sok update...

Tangan gua langsung ngetik SMS tentang hal ini ke temen gua yang šatů itu, yang rumahnya di Praha.
Personally I never had a duet With her, only listening and seeing her play (and she have seen me play too) but who knows the next time we can try it out together somewhere in the city, Dan siapa tahu bisa jadi kece?

Well pertemuan pertama gua dengan mahluk piano yang berbeda itu baru yang pertama.
Tapi sejak saat itu gua pengen Dan lebih pengen lagi main, the Addictive feeling of showing off something you can do mengalahkan rasa grogi gua.

Sampe sekarang gua baru berhasil menemukan Piano itu di 2 tempat - di Hlavní Nádraží (stasiun) Dan di Namesti Míru (Peace Square/Alun2 Damai), Dan target gua, ya tamatin semua 7 tempat itu, kalau bisa Ada yang video-in.

Dan soal pertemuan ke-2 gua dengan kumpulan piano ini di Namesti Míru, Ada kisah uniknya sendiri... Apa yang terjadi ketika itu, Dan apa yang terjadi setelahnya....

Emang somehow, proyek-proyek yang tulus kayak begini, yang gak nyari duit Dan diprakarsai oleh keinginan sendiri.
Hal2 Bangsa itu yang bener2 bisa ngubah kehidupan orang at the moment they participate on it. Walaupun cuman kurang dari 10 menit ngubahnya, cuman bikin yang main kayak gua dan si Om, Serta yang ngedengerin sama2 seneng.

Tapi lo bisa liat kalau orang emang tulus Dan dedicated bikin sesuatu yang beda...
Their work will somehow be rewarded equally.
(Remember that phrase! Im gonna bring it up again on my next story!)

Til later guys :D

Radost

Prolog: kalau pengen liat perasaan gua yang asli banget ketika hal ini terjadi, monggo di cek YouTube gua.

Kata yang šatů itu artinya simple,
"Happiness".

Ya, kamis kemarin, just as an introduction - gua baru selesai ngasih speech pendek ke anak2 AFS Ceko yang bakal berangkat taun depan.

Definitely gua sebagai "single fighter" Dan juga "pionir" alias manusia pertama dari AFS Indonesia yang ke sini emang dihargain banget sama mereka - this event was just one of those dimana ketika gua tanya temen2 senasib gua yang lain, mereka pada bilang 

"what? No, I dont hear anything About that event."
"No, I wont go there..."
Atau jawaban semacamnya.

Kind of privilege emang, tapi seringkali juga unnerving, bikin grogi; karena ga ada yang "sepantaran" buat sekedar diajak ngobrol biar gak nervous selama gua melalui event2 semacam kayak gini.

But it was not About the speech I am going to talk About.
Ini soal apa yang terjadi sesudahnya -

Singkat kata, speech gua sukses besar, lebih karena topik yang gua secara spontan bikin aja dibanding topik mengenalkan Indonesia Dan pengalaman disini; topik tentang gimana overcome semua ketakutan and kekhawatiran kalo bakal dapet negara yang ultimately sangat berbeda dan gak diduga dibanding negara sendiri.

Abis Acara selesai, salah satu volunteer yang masih muda nanya ke gua
"You want to join us fór a dinner?"

Yeay, makan gratiiiiis! Didalem hati gua teriak2 seneng.
But as usual, sedikit tarik ulur basa basi yang sangat Jawa, diawali dengan jawaban "no no thank you" yang berubah jadi "really? Is it ok?" hingga akhrnya "ok, it should be good!"

Entah kenapa disini selain sama orang2 yang memang gua Anggep deket, menghilangkan basa basi macam itu kalau ditawarin sesuatu emang susah.

Tapi tapi masbro, doi belum nanya ke nyokapnya! Jadi sambil gua beres2 barang gua (lebih tepatnya sih kamera) doi nanya ke nyokapnya, eh taunya tidak bisa, tidak jadi.

Disinilah lagi2 gua ngeliat bedanya mahluk manusia Nusantara Dan Bohemia - kalau Acara bangsa ngajak makan begini, definitely 90% di hampir semua kondisi pasti si nyokap volunteer itu ng-iya-in, atau malah punya ide sendiri "eh kita ajak dia makan disitu aja, pasti enak...." Nope, doesnt work the same way here in the Czech Rep.

Baiklah, gapapa, to nevadí, life goes on - toh sebenernya gua masih bisa ngabisin snack yang masih banyak di belakang ruangan.

Tapi pertanyaannya, karena ruangan udah mau kosong banget, berarti gua harus bawa itu snack keluar, makan diluar, Dan itu berarti juga gua harus cari tempat nunggu - ini yang bikin bingung.

Ke stasiun? Masih láma, kasian tiket gua yang cuman Buat 30 menit. Lagian kalo ke Stasiun bukannya hemat malah takutnya boros, karena you know, Praha Hlavní Nádraží is a big train station - gampang aja deh, pernah liat Ada kios Sephora di stasiun kereta?
Nah dengan berbagai macam kafe bakery restoran yang Ada, takutnya gua malah makan makanan gak gratisan.

Ke Mana dong?

Gua punya ide pengen ke Bila Hora (daerah rumah temen gua) siapa tau dapet makanan gratis (yes I was freaking hungry) tapi sayang kejauhan - ga cukup waktu.
Walhasil gua improvisasi lah, mari SMS penghuni Bila Hora - kalau dia lagi jalan keluar, gua Jebe aja. Kalo lg d rumah, g usah mampir.

Tapi SMS tak datang dalam waktu yang dekat.

Nah lo... Bagaimana ini saudara
Akhirnya gua putusin kita ke Stasiun, tapi gak dengan cara mainstream yang berarti naik Tram Dan disambung naik Metro/MRT - tapi jalan kaki!
Sengaja demi bunuh waktu; bro, next train is in 1,5 hours!

Sesaat mungkin lo bilang (kalo lo pembaca loyal blog ini #kalaupunOrangYangSebaikItuAda)....
"Katanya lo Tiap jam Ada kereta Praha-Plzeň sama Plzeň-Praha...."
"Lo gak kebalik tuh? 1,5 jam jalan keretanya, tapi nunggunya Tiap sejam Ada..."

No, no, soalnya gini bro.
Kereta Praha-Plzeň Dan Plzeň-Praha bener emang Tiap jam ada, tapi Plzeň-Tremosna? Gak Tiap jam!
Sehingga whether gua naik kereta jam 8 ataupun jam 9 dari Praha, sama aja! Ujung2nya nunggu sampe jam 22:56 Buat Train terakhir ke Zihle yang lewatin Tremosna.

Mending nunggu lengang santai daripada buru2 ke stasiun, iya gak sih? Makanya, gua pilih kereta jam 9 aja.

At the end of the day, keputusan gua untuk sengaja jalan kurang lebih 1,5 kilometer ke stasiun, itu adalah keputusan terbaik gua selama šatů minggu itu.

Mungkin lo bingung, gimana coba gua bisa jalan kaki nyusurin jalan sampe stasiun kereta? Well, tinggal ikutin jalur Tram! Dan karena itu juga lah, dibanding dengan cara biasanya gua kalo mau jalan kaki disini - yaitu tanya Google dulu Mana jalan Paling deket baru jalan, itu yang mengantarkan gua ke "Kebahagiaan" kali ini.

Lewat stop tram pertama - Jana Masaryka.
Stop Tram kedua... Namesti Míru.

Namesti Míru...
Artinya "Alun2 Damai/Bebas" , "Peace Square" , "Freiheitplatz".

Siapapun yang kasih nama gak salah - cahaya lampu yang bikin gereja baroque ditengah alun2 di tengah malam gini jadi keliatan keren. Apa salahnya gua jepret2 beberapa foto - toh kan sengaja bunuh waktu.

Tau2nya.... Ada bunyi Piano berdenting menghiasi malam dingin itu.

Gua deg2an... Bertanya2
Is this another spot of the street pianos?

Praduga pun menjadi Pravda alias kebebaran, pas gua ngeliat Ada mas-mas botak lagi main piano itu, dideketnya Ada sepasang sejoli ikut bernyanyi - they had a little merry party on such a Thursday night.

Di šatů sisi gua seneng tapi šatů sisi enggak , kepriben toh lik, wong aku sing arep dolanan! Haha, yeah, ego punches you straight in the chest.

Ben rapapa lah, gua bisa foto2 dulu - Dan lebih kerennya foto-foto si 3 manusia Praha ini karena orang yang milih tempat piano ini emang jenius; piano ini tepat di pinggir jalan setapak yang sejajar sama pintu masuk gereja - perfect frame it becomes definitely.

Setelah sekitar 10 jepretan saatnya menikmati permainan piano si Mas yang šatů ini.

Doi main lagu2 Ceko yang gua ga ngerti sama sekali. Ngikutin requestnya si pasangan bahagia ini. Gua cuman bisa diem sambil jentik2 jari ngikutin irama, but hey, rhythm is contagious and also the Mood that it brings - irama itu menular dan juga feeling yang dia bawa; dalam kasus ini, rasa seneng, bahagia, enjoy.

Si mbak kacamata yang lagi nyanyi itupun nengok ke gua Dan lo bisa liat dari wajahnya; muka yang pengen ngajak orang ikut Jebe bareng seru-seruan, gua cuman bisa senyum and lanjutin jentikan jari aja - lagunya mbuh mbak, gak tau sama sekali.

That was the first hint bahwa piano tua itu selama malam itu akan menjadi instrumen distributor kebahagiaan di šatů pojok kecil di Praha.
The first hint too fór me of learning something big.
Sesuatu yang sudah láma sempat gua lupakan, hingga sekadar cuman jadi motivasi ketika gua liat bio Twitter gua sendiri.

"A wanna-be distributor of Universal Happiness."

Kembali ke Kamis malam itu, lo bisa liat - sederhana jentikan tangan aja, it makes the world goes round, dinginnya malam Praha bukan jadi masalah Buat kami ber-4 yang enjoy permainan piano sederhana ini.

Soon, bukan cuman kami ber-4, tapi Ada sekelompok (mungkin) gelandangan or geng, entah apa, tapi lo bisa sense dari cara mereka ngomong, jeans yang rombeng, Dan botol bir ditangan yang jadi petunjuk kenapa mereka jalan oleng padahal ini bukan weekend.

It scares me a bit at first sight, tapi gak juga - mereka datang cuman pengen nikmatin musik, ga Ada niat aneh, jadi woles saja bray.

Such is how music may impact smáll fractures of human's quick life.

Lagu demi lagu si mas2 botak ini mainin dengan perfect - Lagu Natal Ceko, Pirates of the Caribbean, Coldplay, Lagu Jazz....
Sebenernya kalo menurut himbauan si yang punya proyek, gua punya hak Buat minta ganti giliran karena dia udah main entah berapa lagu yang jelasnya lebih dari 2, tapi I dont want - gua tau gua masih punya banyak waktu, Dan kalo misalnya gua nyela dia main sementara gua gak bagus....

bakalan kebanting coy.

Lets just wait, he cant play all night long.
Sambil menunggu akhirnya gua mulai nyoba ngobrol bareng sama para penikmat musik indah lainnya di tempat itu - dengan si pasangan ini tentunya karena gua gak berani ngomong sama kumpulan orang mabok tadi.

Gua buka dengan kalimat sederhana,
"No, hraje to dobře!" He plays good!
"Jasné... Skvělý!" bener.... Pinter

Mulailah obrolan sederhana dengan bahasa Ceko patah2, sambil menikmati permainan si mas ini (yang tentu artinya minta request lagu-lagu lain) tiba2 setelah 2 lagu kemudian mas botak ini nyaut ke gua

"Umíš hrát? Chceš? Vidím tvůj obličej..."
Bisa main gak? Lo mau? Gua bisa liat dari muka lo....

Waduh Mupeng main gua bisa dideteksi doi! Malu masbro.
"Ne ne! Jsi dobry! Ale já ne....umím hrát ale není to dobře"
No no! Lo mendingan! Dibanding gua.... i can play but its not good.

"A zádný nevím českeho hudbach... Budete odjet! Haha"
And also, I know nothing About Czech music... Lo pasti bakal kabur!

Ada raut muka bingung diantara 3 manusia ini yang bikin gua merasa eneg - salah ngomongkah gua? Sebelum si Mbak memecah kebuntuan akhirnya -

"You can speak English if you want"

Fiuh.
Nak, ini Praha nak - bukan Plzeň, ini kota yang lebih Internasional, jadi tak usah cemas.

"Well I know nothing About Czech music!"

"its ok.... To nevadi." Si mas yang dampingin si Mbak ini nyaut
"You study here?" Kali ini si mbak yang nanya
"Not here, in Pilsen."
"Aha.... Well You can play if you want." Si mas botak jenius ini ambil giliran ngomong, sambil jarinya masih terpatri diatas tuts hitam-putih menari lincah. Tapi tetap gua nolak. Rasa grogi itu masih lenih menggerogoti pikiran gua dibandingkan dinginnya malam ini

Setelah kurang lebih 3 lagu lain akhirnya ke-3 manusia ini memutuskan bahwa waktu mereka sudah habis, pasangan itu ke arah Jana Masaryka (dari arah gua dateng), Dan si mas botak ini menuju ke arah tengah kota/Centrum.

Sebelum dia benar2 hilang dari jangkauan, gua tarik kesempatan untuk tanya FB dia, siapa tau doi bisa ngasih feedback ke video2 gua, kan lumayan - Even kritik pedespun juga bukan masalah.

"Ale nemám, fakt nepoužívám."
But I do not use it.... Really.

"No, skoda... ale nevadi, čau!"
Dommage... Sayang sekali.... Tapi gapapa deh, bye!

Seiring berakhirnya permainan ini para pemabok Jalanan itu juga undur diri dari area panggung mini itu; gak pergi, tetep di alun2 yang memang Damai itu.

Tersisalah gua seorang.
Akhirnya sendiri.
No one will care.

Ransel hitam ini gua sandarkan ke kaki piano, badan ini menduduki kursi kayu tua itu, jari menempel dengan tuts yang setengahnya sudah terkelupas hingga kini terlihat bukan lagi hanya hitam-putih, tapi menjadi hitam-coklat kayu-putih.

a pak začínám.
And then I start.

Gua bermain seakan-akan ga Ada orang yang liat, Dan emang awalnya ga Ada orang yang ngeliat, pikir gua - crowd penikmat si mas Botak tadi sudah bubar....
Tak láma kemudian handphone tua buatan perusahaan Finlandia itu berbunyi - sms dari temen gua; dia lagi di rumah.

Berarti gua akan terus main piano ini sampai waktunya ke stasiun tiba.
Jam masih menunjuk pukul 19:47, gua bisa main 1 jam lagi kalau gua mau berhubung kereta gua jam 21:05, tapi lagi2 gua gak mau buru2 ke stasiun, jadi gua bakal lanjut main sampai jam setengah 9 aja (aja? Itu 3/4 jam men)

Dan untung banget emang doi di rumah, karena lagi2 kalo dia ga di rumah Dan gua jebe, ga mungkin hal ini terjadi.

Apa yang terjadi saudara?

Ya, feeling bahwa ga Ada orang yang merhatiin lo main itu jadi semacam pembebas diri lo untuk nyoba2 main berbagai macam lagu - mulai dari a Hundred Years, Terdiam, Lagu-lagu Jason Mraz sampe sebangsa Lir-Ilir Dan Tokecang.

Rasa bermain tanpa beban, rasa bermain tanpa tekanan, ternyata berubah baik - karena itu berarti gua bisa lepas berekspresi sesuai ritme, mulai dari kaki yang Jaga ketukan sampai raut muka yang mengikuti perasaan yang diemban Tiap lagu, that was such moments that I can recall With joy and said, "yup, i put all my heart on it."

Rupanya kebahagiaan yang tímbul dari ketidaksengajaan bermain secara lepas itu amat menular.

beberapa saat orang mulai berdatangan ; yang Paling awal rupanya para gelandangan mabok tadi.
Salah satu dari Mereka ngomong sesuatu dalam bahasa Ceko yang gua gak ngerti kecuali šatů bagian - where they said bahwa gua jangan main terlalu rendah ato terlalu tinggi berhubung ini piano udah butut - cukup di tengah.

Dan di tutup dengan satu frase yang gua gak bakal lupain

"Ale je to tvůj styl, tvůj písni, jak chceš no..."
But its your style, its your song, sa'karepmu dhewe lah.

Ya, Dan emang benar, sekalipun gua cuman improv ngasal scale pentatonis Jawa dimana gua ganti-ganti saling selang antara Pelog Dan Slendro, mereka tetep bisa enjoy. Hampir gua lupa, music and feelings, they are universal, they are contagious.

Dan begitulah hingga kini Ada sejoli yang datang - yang jauh berbeda dari pasangan yang tadi bersama gua menikmati permainan si mas Botak tadi, but definitely mereka juga orang Ceko.

"Ženialni... Můžeš hrát nejaký Vánocům?"

They asked me to play some Christmas song alias Vánocům (Natal = Vánoce).

"Prominte. Nemám Vánoce, proto zádný neznám!"
Sorry, I dont have Christmas, thats why I know nothing! Tentunya sebenernya gua tau beberapa lagu yang Jaman baheula gua belajar saat masih ngedalemin dasar-dasarnya klasik; bangsa2 Šílent Night atau Joy To The World, but entahlah, dari lagu2 natalan Ceko Yang dimainin si Mas botak Sebelum gua itu something else... they are different.

Still they stay, bahkan mereka minta "nejaký zapadni" alias something western yang maksudnya lagu Amerika - funny how Even in such Western hemisphere of the world they dont consider them "Western", tapi di saat bersamaan gua tau bahwa orang Ceko gak mau disamakan dengan "Eropa Timur" which is Rusia Dan negara eks-Sovyet lainnya.

Czechs feel they belong to this entirely different kind of entity - bersama Jerman Selatan, Austria, Slovakia, Hongaria.... "Central". "Střední", like they always say. Tapi entah apakah tetangga2 tersebut merasa hal yang sama.

2 lagu lalu kemudian mereka bubar, tapi seakan2 ga Ada habisnya kali ini Ada bapak2 tua dari Denmark - doi terpikat ketika gua main I Got Rhythm dan Fly Me To The Moon.

Tadinya gua hanya bisa melihat orang dari jauh yang tepuk tangan ngikutin ritme gua - rupanya itu orang yang sama, si bapak tua Denmark ini.

"Speak English?"
"Yes." Sambil jari gua terus bermain.
"A very nice Ragtime!"

Buset, kalo maksud dia Ragtime yang beneran RAGTIME, alias aliran Jazz Dan Blues di tahun 1910an bangsanya George Gershwin Dan Irving Berlin, rasanya gua mau facepalm Dan kabur seisyarat ngomong "gak bro, gak! Ini bukan Ragtime bapakeee! Cuman anak Jakarta ngawur!"

"You know Ive seen many people do great things With this horrible machine" sambil tepuk2 piano tua itu.
"Ive seen in August a very fine young man, perfect! And now, you! Where are you from."
"Far away, from Indonesia."
"Ah Indonesia, so you know earth quakes, yes."
"Why?"
"Do you feel it in this place? Now? The earth is moving"

Hm, gua gak yakin maksudnya apa, tapi kalo emang dia ngerasa ini tanah geter, pasti gara2 mabok - gua bisa yakin dari intonasi dia ngomong, lebih lagi setelah tau bahwa orang yang tepuk tangan ngikutin ritme lo out of the blue dari sudut lain alun2 ini adalah doi.

"No.... Why?"

"Its from this piano, from you, hahaha!" Pujian yang sangat baik bapake.
"Haha nothing, where are you from?"
"Me, Im a Dane! Kobnhavn!"
"I see..." Kalimat terakhir itu gua ucap tanpa melihat ke arahnya tapi ke arah tuts gua; i hope he can stop talking... Gua seneng sih Ada orang yang memuji permainan acak adut ini, tapi, if only he just watch seperti yang lain... It will be much better.

Dan taktik itu berhasil, doi undur diri dari area permainan gua.

Bersama dengan si bapak tua itu Ada juga 2 cewek kira2 umur 20 akhiran. Rupanya mereka orang Rusia, Sebelum pergi mereka minta tolong nunjukin tempat di peta. Well, peta yang ditangan mereka Péťa turis standar - lebih parahnya ini pake bahasa Rusia! Kacau.... Untungnya gua bisa baca 50% abjad Rusia, jadi untuk nunjukin HAMECTN MNPy (ya sebenernya tulisanny gak gini, but this is a close call) alias Namesti Míru bukan masalah setelah gua perhatiin petanya pelan2.

Selain mereka masih Ada beberapa orang lagi, sampe akhirnya jam menunjuk 20:30 Dan gua harus beranjak.

But you know whats interesting?
Of all those, yang menyempatkan dirinya nonton Permainan kecil gua Dan sempet ngobrol sama gua - Ada semacam rasa seneng di raut wajah mereka, Dan feeling bahwa lo bisa menjadi semacam, katakanlah, "tangan kanan Tuhan" dalam memberikan sedikit kebahagiaan di malam yang dingin itu kepada orang yang sekedar lalu lalang, yang gak tau siapa gua, gak expect bahwa gua bakal mainin piano itu, mainin lagu-lagu yang selaras sama selera mereka...

That feeling give you happiness.
Bahagia karena membuat orang lain bahagia.
Dan dari situ, lo makin percaya diri, makin confident untuk main sebebas2nya, Dan beneran, bukan cuman makin percaya diri, in fact permainan lo makin membaik!

Beberapa lagu yang sebelumnya gua gak pikir bisa main dengan lancar, semua main dengan lancar, anehnya, untuk ngulang permainan kayak gitu lagi, susah minta ampun!
I felt that it was clearly permainan paling lancar gua ketika gua main lagu "Firasat" Dan "Lír Ilir", sebelumnya (Dan sesudahnya, which means sekarang!)

Aneh bagaimana banyak hal yang bisa lo lakukan dengan bagus pada šatů waktu, terus kemudian lo gak bisa ngulang sebagus itu lagi, cuman karena Ada semacam suntikan percaya diri Dan doping berupa perasaan enjoy.

Dan hebatnya betapa karena sebuah hal sederhana, itu bisa ngedorong orang untuk jadi lebih baik Dan lebih baik lagi, setelah itu bukan cuman untuk dirinya sendiri tapi juga Buat orang disekitarnya.

Fór me thats the highest point of the night - bukan pas gua mainnya bagus atau lepas gua merasa seneng banget, tapi ketika ngeliat orang lain ikutan enjoy, itu moment2 yang Paling, Paling ngebuat gua merasa....

"Yeah, this IS Muhammad Arkandiptyo. This is who I am."

Bukan karena lo sendiri, tapi karena Ada respons dari orang lain.

Jadi inget sepenggal pelajaran agama gua. (Manusia macem apa gua ya, udah ngaco2 masih inget ayat Quran)

Wa man ya'mal mitsqala zarratin khairan yarah

Dan barang siapa yang beramal sebutir kebaikan akan mendapat balasan sesuai....

Buat gua cukuplah bikin orang bahagia jadi balasan sesuai.
Karena musik gak punya batasan begitu juga berbuat baik.

Entah gua gak tau apakah diitungnya bener itu jadi pahala atau gak, considering banyaknya hal2 ngaco yang gua udah lakuin disini.
Tapi kalau lo bisa bikin orang bahagia....
Walau cuman sesaat....

Itu bukan hal biasa.

And trust me, I know you may be bored, ngeliat gua udah nulis point yang ini berkali2, Dan bikin tulisan ini panjang, tapi.....

That feeling when you make someone else happy is incomparable.

Biar gampangnya deh,
Coba lakuin sesuatu yang bikin orang lain seneng,
Dan ketika lo sadar orang itu seneng,
Berhenti sebentar Dan inget tulisan ini.

Bener kan, it really is a good feeling?